VERBATIM RET (RASIONAL EMOTIF TERAPY

 

 
 

Selasa, 08 Mei 2012

Contoh Verbatim Konseling Individual RET (Rational Emotif Therapy)

 
SATUAN KEGIATAN
LAYANAN KONSELING
                                                                                                                                   
A.     Judul / Spesifikasi Layanan :Ingin bunuh diri karena merasa bersalah atas kematian pacar.
B.     Bidang Bimbingan : Pribadi
C.     Jenis Layanan : Konseling Individu
D.     Fungsi Layanan : Pengentasan
E.      Tujuan Layanan :
a.     Mencari sebab mengapa individu sering menyalahkan dirinya sendiri.
b.     Menumbuhkan kesadaran diri pada individu terkait seringnya menyalahkan dirinya sendiri.
c.     Membantu individu mengentaskan permasalahan yang dihadapi.
d.     Membentuk perilaku individu menjadi lebih positif.
F.      Hasil yang ingin dicapai :
1.   Klien dapat memahami keadaan diri secara baik.
2.   Klien dapat berpikir secara rasional.
3.   Klien dapat menemukan jalan keluar bagi masalah yang dihadapinya.
G.     Sasaran Layanan : Hawinda, Siswa SMA Kelas XI
H.     Tempat Penyelenggara Layanan : Ruang BK
I.       Pelaksanaan : 30 April 2012
J.       Waktu : 3 x 40 Menit
K.     Pendekatan : Konseling RET (Rational-Emotive   Therapy)
L.      Teknik : homework, social-modelling,
  simulation – imitation
M.   Uraian Kegiatan Pemberian Layanan :
1.   Pendahuluan
a.     Menyambut kehadiran klien
b.     Menciptakan hubungan yang baik dengan klien
 
2.   Inti
a.     (Assesment)
ü  Menggali informasi tentang keadaan klien dan mendorong klien untuk menguraikan permasalahan yang klien alami.
b.     (Antecedent Event/ Activity)
ü  Merumuskan kejadian yang sebenarnya terjadi dan dialami klien sehingga klien memiliki irrational belief.
c.     (Belief)
ü  Merumuskan yang menjadi irrational belief klien atas kejadian yang sebenarnya terjadi. Sehingga konselor dapat memahami keyakinan klien atas peristiwa yang dialami klien.
d.  (Consequence)
ü  Merumuskan hasil yang dibentuk dari irrational belief klien. Dalam permasalahan ini consquence atas Antecedent  Eventadalah keputusan klien untuk ikut mati seperti pacarnya.
e.   (Disputing)
ü  Konselor melakukan proses konseling dengan men dispuite atau melawan irrational belief  klien dengan rational belief klien.Dispuite dilakukan dengan memberikan treatment berupa Teknik Homework, Social-Modelling, dan Simulation- Imitation pada klien.
f.   (Effect/Expectation)
ü  Hasil yang didapatkan berupa keberhasilan dapat diubahnyairrational belief menjadi rational belief sehingga perilaku yang lebih positif.
3.   Penutup
a.     Mengulangi pernyataan klien tentang jalan keluar yang telah ditetapkan.
b.     Klien berinisiatif mengakhiri kegiatan konseling.
N.     Pihak yang diikutsertakan : Klien, Guru BK
O.     Alat yang digunakan : Bolpoin, Kertas, Recorder
P.      Rencana Penilaian :
a.     LAISEG          :
1)  Mengamati klien selama mengikuti proses konseling.
2)  Partisipasi klien selama mengikuti layanan konseling yang diberikan.
b.     LAIJAPEN :
Mengamati kesungguhan klien untuk merubah perilakunya.
c.     LAIJAPAN :
Perkembangan siswa setelah layanan konseling individual ini diberikan (satu bulan – satu semester).
 
Q.   Tindak lanjut : Apabila di perlukan, dapat dilakukan konseling pada pertemuan selanjutnya.
 
Surakarta,  April  2012
                                                                                                              Guru BK
 
 
 
                                                                                                      Niken Rithmayanti
                                                                                                        NIM K3109055
 
 
 
 
 
 
 
 
VERBATIM KONSELING INDIVIDU
(RET-dengan Teknik Homework, Social-Modelling,dan Simulation – Imitation)
 
Deskripsi masalah
Hawinda adalah siswa SMA kelas XI. Hawinda ini bisa disebut siswa yang berprestasi di sekolah. Di rumah, Hawinda merupakan anak yang baik, periang dan penurut kepada orang tuanya. Tetapi setelah kematian pacarnya yang tertabrak kendaraan, perilakunya menjadi berubah. Dia sering terlihat murung, sering menyendiri, terkadang menangis tanpa sebab, sering melamun. Sehingga perilakunya tersebut berdampak pada hidupnya dirumah dan disekolah. Dan Hawinda mempunyai niat untuk bunuh diri saja untuk menebus kesalahannya.
Nilai – nilai Hawinda disekolah mulai menunjukkan penurunan, daya tangkap ketika pelajaran kurang, kurang tanggap, kurang bersosialisasi baik dengan teman- temannya. Sedangkan dampak ketika di rumah ialah orangtuanya resah dengan Hawinda yang sering melamun, malas belajar, tidak ceria lagi. tuanya.
 
Verbatim Konseling
 
Subyek                                       Dialog
Keterampilan Komunikasi
Konseli
: Assalamu’alaikum …selamat siang
Salam
Konselor
Walaikum salam….Selamat siang, Oh iya.. silahkan duduk.. (tersenyum lalu menunjukkan dan mempersilahkan konseli ke tempat duduk sambil bersalaman dengan konseli)
Opening / Good Raport
Attending
Konselor
 : Alhamdulilah bisa ketemu hari ini ya Hawinda. Bagaimana kabarmu hari ini, Hawinda ?
Good raport
Konseli
 : Alhamdulillah baik,bu.
 
Konselor
 : Ngomong – ngomong ini belum jam istirahat kok bisa ke ruang konseling?
Good Raport
Konseli
 : Sebenarnya pelajaran Ekonomi yang diampu Bu Sinta bu. Tapi Bu Sinta berhalangan hadir, kata guru piket beliau ada urusan keluarga.
 
Konselor
: Apakah ada tugas yang diberikan dari guru piket tadi ?
Good Report
Konseli
: A da bu, tapi sudah saya kerjakan kok, terus langsung kesini deh bu. Mumpung ada waktu juga.
 
Konselor
: Oh baik kalau begitu, takutnya kalau Hawinda belum mengerjakan tugas.
Good Raport
Konseli
: Hehe, tidak kok bu. Oiya Bu, saya ingin cerita banyak ini bu (nampak murung )
 
Konselor
:Iya, seperti yang sudah kita sepakati di telepon kemarin malam kalau kita akan bertemu. Pasti ada beberapa hal yang ingin diceritakan. Coba kemukakan apa yang Hawinda rasakan
Lead
Konseli
 Iya bu, tapi saya bingung harus cerita darimana. Kira – kira ini nanti berapa ya bu waktunya? Kita bisa ketemu lain hari kan bu?
 
Konselor
 Nanti pelan – pelan saja ceritanya, tidak usah terburu – buru ya, waktu kita sesuaikan dengan jam kosongnya ini saja, masih ada 40 menit ya. Kalau nanti dirasa masih perlu, kita bisa bertemu kembali di hari lain, bisa hubungi ibu dulu untuk janjian begitu ya.
Structuring
(time limit)
Konseli
: Baik bu, nanti kalau sudah bel pelajaran selanjunya, diakhiri dulu ya bu pertemuan ini. Ibu ga akan cerita dengan siapa – siapa kan bu? Saya takut nanti kejadian yang saya alami ini diketahui teman – teman dan guru, nanti saya malu.
 
Konselor
: Tenang saja Hawinda, ibu tidak akan menceritakan masalah ini kepada siapa- siapa. Karena ada kode etik mengikat. Silahkan Hawinda cerita saja dengan terbuka, santai, dan percaya kepada ibu. Dengan begitu kita sama – sama bisa menyelesaikan masalah yang terjadi.
Structuring
(role limit)
Konseli
: Baik bu, dengan begini saya jadi tenang akan cerita dengan ibu.
 
Konselor
: Baik kalau begitu, coba ceritakan apa yang dirasakan Hawinda saat ini.
Lead
Konseli
: Bagaimana ya bu,saya bingung untuk mengatakannya.
 
Konselor
: Tidak usah bingung ya Hawinda, saya akan mendengarkan semua yang diceritakan Hawinda, semoga satu persatu masalah bisa dipecahkan dan tidak ada hambatan. Bagaimana?
Acceptance
Konseli
: Iya bu, begini ceritanya, pacar saya meninggal 6 bulan yang lalu. Saya merasa sedih sekali bu. Pacar saya meninggal saat mau menjemput saya ke sekolah bu. Dan kejadiannya terjadi di depan mata saya. Saya merasa menyesal, kenapa dia harus jemput saya. Saya harusnya tidak manja. Padahal biasanya saya naik angkot ga papa. Saya sedih sekali bu, betapa bodohnya saya saat itu.
A (Activity)
Konselor
: Ya..ya..ya.. Saya memahami perasaan  Hawinda.
Empathy
Konseli
: Padahal saya sangat sayang kepada dia bu. Malah saya sendiri yang mencelakakan dia
 
Konselor
: Ehmm ya ya (mengangguk-angguk)
Acceptance
Konselor
:Coba ceritakan kronologi peristiwa kecelakaan itu Hawinda
Exploring
Konseli
: Saat itu paginya saya pengen banget dijemput sama pacar saya. Akhirnya saya sms pacar saya yang sudah kuliah untuk menjemput sekolah. Kebetulan dia sedang tidak ada jadwal kuliah. Diapun mau bu. Pas bel pulang sekolah, saya langsung keluar dan menunggu di dekat gapura sekolah. Baru 5 menit di situ, terdengar suara keras banget motor yang nabrak. Saya liat ada motor Ninja merah sudah terguling dan ada bis. Pertamanya saya tidak terlalu peduli, tapi setelah saya liat helmnya, saya terperangah. Itu pacar saya. Saya saat itu langsung berlari menghampiri pacar saya dan kaget banyak sekali darah dari kepalanya. Saat itu saya tidak peduli sekitar saya ada banyak orang yang melihat. Tak lama, ambulans datang dan membawa pacar saya. Saya diajak pulang teman saya dan sesampai rumah, di beri kabar bahwa pacar meninggal. Langsung saya menangis histeris dan pingsan. Tak percaya ini cepat sekali terjadi. Kenapa saya minta dijemput saat itu. (menangis).
Activity
Konselor
: Miris sekali ya kejadiannya. Saya bisa merasakan apa yang Hawinda rasakan saat itu.
Empathy
Konselor
: Berarti dengan kata lain Hawinda merasa ini semua adalah kesalahan Hawinda karena  sudah minta dijemput oleh pacarnya?
Clarification
Konseli
: Iya bu,saya merasa ini semua adalah kesalahan saya. Saya berpikir juga harus mati untuk menebus kesalahan ini bu.
 
Konselor
: Coba dipikir dua, tiga kali lagi apakah berpikir seperti itu sudah sesuai?
Rejection
Konseli
: Entahlah bu.
 
Konselor
: Bagaimana dengan orang tua Hawinda dan orang tua pacar Hawinda?
Lead
Konseli
: Ibu bapak saya selalu menguatkan saya bu, walaupun sampai sekarang saya pun belum bisa memaafkan diri saya sendiri.
Kalau bapak ibu pacar, mereka berusaha tegar dan menerima hal ini sebagai ujian. Mereka tidak membenci saya bu, saya bersyukur. Bahkan mereka seperti menganggap saya anak sendiri. Sehingga kalau pulang sekolah, kadang saya mampir kesana dan berdoa bersama mendoakan almarhum.
 
Konselor
: Ibu bapak selalu menguatkan Hawinda ya dan orang tua pacar tidak membenci Hawinda.
Restatement
Konselor
: Nah, mari kita pikirkan bersama-sama Hawinda. Keluarga selalu menguatkan Hawinda. Tetapi Hawinda ingin menebus kesalahan dengan ikut mati. Menurut Hawinda itu cara yang paling tepat?
Belief
Konseli
: Gimana ya bu, saya selalu dikejar – kejar perasaan bersalah, betapa saya jahat kepada pacar saya ini. Terkadang memang terlintas pikiran seperti itu bu.
 
Konselor
: Jadi menurut Hawinda, karena kematian pacar,Hawinda selalu merasa bersalah dan berpikir ingin ikut mati saja tanpa menghiraukan keluargamu dan keluarga pacar yang menyayangimu . Hal itu merupakan keputusan yang tepat. Begitu?
Paraphrasing
Konseli
: Iya bu,saya rasa itu cara terbaik dalam menyelesaikan masalah ini. Untuk apa saya hidup kalau pacar saya tidak ada. Hidup terasa hampa bu.
 
Konselor
: Baiklah Hawinda coba tenangkan pikiran terlebih dahulu. Dengan ikut mati apakah masalah itu dirasa sudah selesai ? Apa dengan kematian Hawinda, orang tua juga tenang, begitu ? Bukannnya dengan ikut mati dengan bunuh diri, berarti Hawinda menambah permasalahan karena orang tua harus kehilangan anak secantik Hawinda?
Confrontation
Konseli
: Iya sih,bu sepertinya saya malah menambah masalah dengan bunuh diri,tetapi saya tidak tahu dengan cara apa lagi agar bisa menyelesaikan masalah.
 
Konselor
: Nah, berarti Hawinda sekarang merasa bahwa ikut mati bukanlah solusi dari permasalahan ini bukan?
Belief
Konseli
: Ya,bu saya mengerti itu. Tapi saya masih belum bisa memaafkan diri saya atas meninggalnya pacar saya, saya masih merasa bersalah karena itu bu. Merasa akar masalah yang terjadi adalah karena saya.
 
Konselor
: Hawinda, kalau orang tua pacarmu saja bisa tegar dan menerima kenyataan bahwa anaknya sudah meninggal, mengapa dirimu tidak bisa sekuat mereka? Padahal kalian sama- sama menyayangi dia.
Confrontation
Konseli
: Iya sih bu. Mungkin saya yang berpikir terlalu pendek.
 
Konselor
 : Hawinda sekarang ini belum pernah membicarakan masalah ini kepada orang tua? Atau sekedar curhat tentang perasaan Hawinda kepada orang tua?
Lead
Konseli
: Tidak,bu saya bingung bagaimana cara untuk memulai membicarakan hal ini, saya takut orang tua saya berpikir saya mulai tidak fokus sekolah. Sekarang saya malah merasa pusing dan lemas bu.
 
Konselor
; Kamu sekarang pusing dan lemas ? kamu butuh istirahat Hawinda ?
Lead
Konseli
: Sepertinya iya bu, bagaimana kalau dilanjutkan besok saja ?
 
Konselor
: Ya sudah tidak apa-apa, bagaimana kalau Hawinda Ibu beri tugas untuk menuliskan kebaikan orang tua Hawinda dan orang tua pacar Hawinda? Kerjakan di rumah ya.
Teknik Homework
Konseli
: Oh baiklah bu , saya akan mengerjakan dengan tenang dirumah.
 
Konselor
: Baik, sekarang coba Hawinda simpulkan apa yang didapatkan pada pertemuan kita hari ini?
Termination
Konseli
: Saya merasa saya ini sangat bersalah telah menyebabkan pacar saya mati. Saya sangat terganggu dan sedih. Namun saya tidak tahu bagaimana agar masalah ini cepat selesai dan hidup saya menjadi tenang. Dan saya diberi tugas oleh Ibu untuk menuliskan kebaikan orang tua saya dan orang tua pacar saya.
 
Konselor
: Baik Hawinda, silakan kembali ke kelas dan beristirahat ya
Termination
Konseli
: Iya bu, besok saya hubungi ibu dulu ya. Terimakasih ya bu. Saya kembali ke kelas dahulu. Assalamu alaikum.
 
Konselor
: Sama- sama Hawinda. Walaikum salam.
Termination
Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s